Pengambilan keputusan merupakan bagian dari hidup manusia dalam menghadapi berbagai masalah untuk pemenuhan berbagai kebutuhan hidupnya, sehingga setiap individu membutuhkan pengambilan keputusan yang tepat. Pengambilan keputusan merupakan suatu proses dan berlangsung dalam suatu sistem, meskipun merupakan suatu keputusan yang sifatnya paling pribadi sekalipun. Pengambilan keputusan menjadi suatu hal yang biasa diambil atau dilakukan karena individu menghadapi berbagai permasalahan untuk dapat mempertahankan hidupnya.Pengambilan keputusan merupakan kunci kehidupan dan kegiatan yang paling penting dari semua kegiatan dalam menghadapi berbagai permasalahan untuk dapat mempertahankan hidup.
Perlu disadari pula bahwa agar dapat berhasil dalam upaya mengembangkan kemampuan untuk mengambil keputusan dibutuhkan kematangan pribadi. Semakin matang individu mengenali masalah yang selalu dihadapi dan semakin tepat individu tersebut memecahkan permasalahan tersebut, maka semakin besar kesuksesan yang diraih. Secara popular mengambil keputusan adalah memilih satu di antara sekian banyak alternatif. Suatu keputusan yang diambil dianggap “tepat” yaitu jika keputusan tersebut didasarkan pada sejumlah pertimbangan yang memperhatikan segala faktor, baik obyektif maupun subyektif.
Seiring pengambilan keputusan yang diambil, yang semula mungkin dianggap sepele tetapi memiliki pengaruh yang sangat besar bagi kehidupan seseorang. Dibutuhkan banyak faktor sebagai pertimbangan agar keputusan yang diambil benar-benar tepat. Para remaja dalam memillih hanya berdasar ikut-ikutan teman, disuruh orang tua, didorong oleh orang lain, ataupun memilih sendiri tetapi buta dengan informasi yang dipilihnya. Kematangan pengambilan keputusan adalah suatu proses pilihan alternatif tindakan seseorang dalam cara yang efisien dalam situasi tertentu. Pengambilan keputusan yang bersifat rutin sehari-hari pun individu kadang-kadang hanya melakukan pilihan alternatif melalui judgment sederhana, padahal keputusan tersebut diperlukan suatu prosedur problem solving dengan tahapannya yang sistematis.
Setiap saat seorang remaja, pengambilan keputusan atau “Decision Making” akan berpengaruh terhadap hidupnya kelak maupun hidup orang lain. “Decision Making” dilakukan mulai hal yang sederhana, seperti memilih warna baju, memilih model pakaian, atau memilih menu makanan. Pengambilan keputusan juga dilakukan dalam hal-hal yang kompleks seperti memilih teman pergaulan, memilih calon suami/ istri sampai dalam hal pemilihan karier. Banyak sekali masalah yang dihadapi remaja dalam memutuskan sesuatu. Misalnya seorang siswa yang berminat untuk masuk jurusan IPS akan tetapi orang tua menilai jurusan IPA lebih bagus, di sinilah masalah yang sering dihadapi remaja, bagaimana keputusan yang paling baik untuk diambil.
Kemampuan remaja dalam mengambil keputusan memiliki konsekuensi yang sama dengan orang dewasa karena mempunyai dampak yang penting sesuai dengan resikonya. Budaya paternalisme kaum dewasa cenderung bersikap membatasi hak remaja dan menerapkan stigma pada remaja. Remaja tidak boleh diberi hak untuk mengatur tindakan mereka sendiri. Remaja lebih dipandang sebagai masalah dari pada sebagai sumber daya. Kaum dewasa ditempatkan pada kedudukan yang lebih tinggi yaitu selalu tahu dan benar. Itulah salah satu yang menyebabkan kurangnya rasa percaya diri pada remaja dalam mengambil keputusan.
Remaja mampu mengontrol perilaku dan emosinya akan cepat lepas dari krisis jati diri dalam mencari dan mengembangkan identitas dirinya. Remaja tersebut akan lebih mampu mengevaluasi dan menyesuaikan perilaku dirinya dengan orang lain. Usaha pengembangan identitas diri ini tidak akan lepas dari perasaan harga diri. Harga diri merupakan bagian dari kepribadian yang akan mempengaruhi tingkah laku individu dalam kesehariannya. Harga diri bukan merupakan faktor bawaan namun merupakan faktor yang dapat dipelajari dan terbentuk sesuai pengalaman individu itu sendiri.
Harga diri adalah hasil evaluasi yang dibuat, dipertahankan, diperoleh dari interaksi dengan lingkungan, penerimaan, penghargaan, dan perlakuan orang lain terhadap individu tersebut. Harga diri dapat mengarahkan perilaku diri, jika harga dirinya tinggi maka perilakunya akan positif dan jika harga dirinya rendah maka perilaku yang tampak juga akan negatif. Seseorang kurang dapat mengaktualisasikan dan cenderung kurang percaya diri apabila memiliki harga diri yang rendah. Dengan demikian kematangan dalam menentukan suatu keputusan karier oleh remaja dibutuhkan harga diri yang mantap.
Secara potensial seorang siswa SMA memiliki kecerdasan tinggi, dan setelah diukurpun terungkap kemampuan mentalnya itu, tetapi mungkin saja ia merasa dirinya tidak akan mampu mengikuti pelajaran, dan tidak yakin apakah ia akan bisa menamatkan sekolah. Demikian juga dengan siswa berbakat musik, tetapi mungkin merasa dirinya tidak mampu berolah musik, karena tiadanya kesempatan untuk itu sehingga ia tidak tahu kalau dirinya berbakat. Kemungkinan lain adalah aktualisasi diri siswa itu di bidang musik tidak memperoleh perhatian atau penghargaan.
Remaja pada masanya berusaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya. Eriksson menamakan proses tersebut sebagai proses mencari identitas ego. Suatu masa pembentukan identitas, yaitu perkembangan ke arah individualitas yang mantap, aspek yang sangat penting dalam perkembangan diri sendiri. Debesse berpendapat bahwa remaja sebenarnya menonjolkan apa yang membedakan dirinya dari orang dewasa, yaitu originalitasnya dan bukan identitasnya. Istilah krisis originalitas mungkin lebih tepat dari pada krisis identitas. Usaha remaja untuk mencapai originalitasnya sekaligus menunjukkan pertentangan terhadap orang dewasa dan solidaritas terhadap teman sebaya. Prinsip emansipasi memungkinkan bahwa kedua arah gerak saling bertemu dalam usaha originalitas ini, sehingga timbul suatu jarak antar generasi dan suatu kultur pemuda.
Selain masa transisi banyak lagi sebutan untuk masa remaja sebagai masa yang akan di lewati dalam perjalanan hidup manusia. Ada yang menyebutnya masa pubertas atau masa penuh gejolak emosi. Sebutan-sebutan ini diberikan karena pada masa ini adalah masa remaja dalam pencarian jati diri sekaligus sebagai masa yang rawan dari pengaruh luar. Jika pandangan dan nilai orang tua berbeda dengan nilai teman sebaya maupun tokoh lain akan besar kemungkinan adanya konflik, sehingga remaja mengalami masalah. Masalah-masalah yang dihadapi remaja akan bertambah komplek apabila remaja tidak bisa memutuskan masalah mana yang menjadi prioritas pemecahannya.
Pemuda menunjukkan originalitas dan memanifestasikan dirinya sebagai kelompok muda dengan gayanya sendiri. Pengertian originalitas di sini tidak boleh diartikan secara individual. Mereka tidak individualistik maupun tidak kreatif, originalitas merupakan sifat khas pengelompokkan anak muda sebagai suatu keseluruhan. Pola interaksi yang dilakukan remaja dalam rangka mencari identitas dirinya secara tidak langsung mempengaruhi setiap keputusan yang diambil. Karena remaja lebih mempercayai teman dari pada diri sendiri maupun keluarga.
Teman sebaya merupakan suatu kelompok yang diharapkan oleh remaja sebagai sesuatu yang dapat membuat mereka nyaman. Bersama teman sebaya, remaja dapat bercerita atau “curhat” tanpa rasa canggung karena rata-rata mereka seusia. Situasi kelompok teman sebaya terdapat suatu bentuk pola interaksi yang memiliki derajat intensitas yang berbeda-beda pada setiap remaja dengan dua kutub yang berlawanan yaitu “sindrom penerimaan” dan “sindrom alienasi”. “Sindrom penerimaan” merupakan situasi menerima atau diterima dengan intensitas dan pengaruh yang kuat ke dalam kelompok, sedangkan “sindrom alienasi” memiliki pengertian yang sebaliknya.
(sumber: http://www.kesimpulan.com/2009/09/kemampuan-dalam-pengambilan-keputusan.html )
Kamis, 05 April 2012
Senin, 02 April 2012
Cara Bung Karno Membangkitkan Nasionalisme
Banyak kalangan yang mengusulkan perlunya membangkitkan nasionalisme. Berbagai seminar, diskusi, penelitian, dan kegiatan dibuat untuk tujuan itu. Akan tetapi, seperti kita ketahui, sebagian besar proyek itu mengalami kegagalan.
Dahulu, di jaman pergerakan anti-kolonialisme, proses pembangkitan nasionalisme berhasil dilakukan. Maklum, pada jaman itu, rakyat kita berhadapan dengan musuh yang jelas dan penindasan yang juga sangat terang.
Namun, bukankah sekarang problem penjajahan juga terang. Para pengamat, juga politisi dan aktivis, ramai-ramai berbicara tentang penjajahan gaya baru. Bahkan mantan Presiden RI, BJ Habibie, pernah menyinggung istilah ‘VOC berbaju baru’. Ya, baju baru kolonialisme sekarang adalah Neoliberalisme.
Bung Karno, salah seorang motor pergerakan nasional jaman itu, ternyata punya rumus bagaimana membangkitkan nasionalisme itu. Sebab, tidak seperti di pikirkan banyak orang, membangkitkan nasionalisme jaman itu juga bukan perkara gampang; ini membangkitkan nasionalisme rakyat yang ratusan tahun tertidur.
Bung Karno, salah seorang motor pergerakan nasional jaman itu, ternyata punya rumus bagaimana membangkitkan nasionalisme itu. Sebab, tidak seperti di pikirkan banyak orang, membangkitkan nasionalisme jaman itu juga bukan perkara gampang; ini membangkitkan nasionalisme rakyat yang ratusan tahun tertidur.
Bung Karno pun mengajukan tiga rumus:
Pertama, menunjukkan kepada rakyat tentang masa lampau yang gemilang.
Kolonialisme membuat rakyat kita patah harapan. Tidak sedikit yang menganggap penjajahan sebagai sesuatu yang sudah ‘hukum alam’. Bahkan tidak sedikit pula yang percaya kolonialisme sebagai proyek ‘memberadabkan’ nusantara.
Karena itu, guna membangkitkan nasionalisme rakyat, Bung Karno berbicara tentang masa lampau yang gemilang. Ia berbicara tentang masa keemasan kerajaan-kerajaan nusantara, seperti Sriwijaya, Singasari, dan Majapahit.
Bung Karno berbicara tentang masa kejayaan nusantara yang diakui oleh bangsa-bangsa lain, seperti Tiongkok, Persia, dan Madagaskar. Namun, tidak sedikit yang mencibir sikap Bung Karno ini.
Banyak yang menuding Bung Karno hendak menghidupkan jaman feudal. Tan Malaka, misalnya, menganggap ‘pengingatan tentang masa lampau yang gemilang’ sebagai tindakan kolot dan sudah berkarat.
Namun, di mata Bung Karno, ‘pembangkitan masa lampau’ itu bukanlah menghidupkan jaman feudal, melainkan menunjukkan bahwa nusantara punya potensi berkembang menjadi bangsa modern. Hanya saja, proses itu diganggu dan dihentikan oleh kolonialisme, sehingga perkembangan positif itu terhenti.
Kedua, menyadarkan rakyat tentang keadaan sekarang ini (penjajahan) sebagai jaman kegelapan.
Dalam urusan bongkar-membongkar kejahatan kolonialisme, mungkin Bung Karno adalah salah seorang ahlinya. Ia banyak sekali menulis karya-karya yang mengupas imperialisme dan kejahatan-kejahatannya.
Di dalam tulisan-tulisan itu, Bung Karno menyertakan data-data untuk menyakinkan orang tentang realitas penindasan itu. Ia menulis, misalnya, berapa kekayaan alam Indonesia yang diangkut oleh kolonialis.
Bung Karno mengatakan: “kesengsaraan itu bukan ‘omong kosong’ atau ‘hasutan kaum penghasut’. Kesengsaraan itu adalah suatu kenyataan atau realitet yang gampang dibuktikan dengan angka-angka.
Bung Karno juga sangat pandai menggali istilah yang tepat untuk menggambarkan penderitan rakyat Indonesia. Salah satunya Bung Karno mengatakan: “rakyat Indonesia hidup segobang sehari (2,5 sen).”
Ketiga, memperlihatkan masa depan yang berseri-seri dan gemilang.
Nah, di sini ada sedikit masalah, sebab tidak ada orang yang bisa memastikan keadaan masa depan. Paling-paling, kata Bung Karno, orang hanya bisa memberikan gambaran-gambaran saja.
Kaum marxist pun, kata Bung Karno, akan kesulitan menggambarkan masyarakat sosialis secara seksama. Paling-paling, kata Bung Karno, orang marxist menggambarkan kecenderungan-kecenderungan masyarakat sosialis saja.
Karenanya, yang paling bisa dilakukan cuma menebarkan janji-janji: kemakmuran, keadilan sosial, demokrasi, kemajuan seni dan budaya, dan lain-lain. Namun, proses merealisasikan janji-janji itu memerlukan perjuangan.
Nah, rumus Bung Karno membangkitkan nasionalisme itu bisa diringkas sebagai berikut: “rakyat Indonesia yang dahulu begitu bersinar-sinar dan tinggi kebesarannya, meskipun sekarang sudah hampir menjadi bangkai, rakyat Indonesia itu pasti cukup kekuatan dan cukup kebisaan mendirikan gedung kebesaran pula kelak di kemudian hari, pasti bisa menaiki lagi ketinggian tingkat derajatnya yang sediakala, ya, melebihi lagi tingkat ketinggian itu!”
Bung Karno menunjukkan bahwa masa depan bangsa Indonesia adalah tata masyarakat adil dan makmur, yaitu sosialisme Indonesia. Akan tetapi, sebelum menuju ke sana, terlebih dahulu harus dihilangkan penghalang-penghalangnya: stelsel (sistem) yang menghisap kaum marhaen, yakni kolonialisme, imperialisme, dan kapitalisme. Pendek kata, nasionalisme ala Bung Karno, yang sering disebut sosio-nasionalisme, bercita-cita menjadikan sosialisme Indonesia sebagai “terminus ad quem” (titik yang dituju).
Dengan demikian, proyek nasionalisme Indonesia adalah proyek jangka panjang yang disertai perjuangan. Itulah yang membedakannya dengan proyek nasionalis sekarang: sebuah proyek jangka pendek, yakni sekedar ‘merek dagang’ politik untuk pesta demokrasi lima tahunan.
(Sumber: IRA KUSUMAH, Berdikari Online)
Menulis, Sebuah Proses
Bagi banyak orang, menulis adalah aktivitas yang mengasyikkan. Terutama karena dengan menulis orang bisa berbagi gagasan, argumen, angan-angan, mimpi, bahkan perasaan. Mungkin kah kita salah satu yang menggemari aktivitas menulis karena alasan tersebut?
Berbagai media tersedia sebagai tempat berekspresi dalam bentuk tulisan. Personal web/blog tanpa biaya, social media, surat kabar, majalah, maupun dalam bentuk buku. Kita bisa memilih mana yang nyaman untuk kita menuangkan ide-ide maupun meluapkan perasaan. Pemilihan media untuk menulis seringkali berdasarkan pada niat awal menulis. Sejauh mana kita ingin menulis, siapa saja yang kita inginkan membaca tulisan kita, termasuk apakah kita ingin orang mengakui kita sebagai penulis yang sebenarnya.
Menulis untuk diri sendiri, tentu saja berbeda dengan menulis untuk ‘dikonsumsi’ orang lain. Ada kaidah-kaidah tertentu yang harus dipatuhi dalam membuat tulisan yang nantinya dipublish untuk umum. Terlebih bila dimaksudkan untuk tujuan komersil. Ada aturan penggunaan EYD, bobot dan genre tulisan, serta nilai jual yang harus diperhatikan.
Menulis juga butuh proses belajar. Bagi kita yang mengawali karir menulis dari nol, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuka jalan. Yang paling penting adalah menulis dan terus menulis, kemudian cukup percaya diri untuk membiarkan orang lain membaca dan menilai tulisan kita. Semakin banyak orang membaca, akan semakin banyak pula referensi tentang penerimaan mereka.
Maraknya audisi buku antologi dan lomba menulis adalah kesempatan yang baik untuk mengukur kemampuan menulis kita. Bila kita terbiasa menulis suka-suka, maka mengikuti audisi/lomba akan memaksa kita belajar. Tema dasar, jumlah kata atau halaman, segmentasi, dan lain-lain aturan yang ditetapkan, akan membantu proses kreatif kita untuk menulis dengan batas. Di sinilah kita ditantang untuk menyesuaikan tulisan kita dengan selingkung yang ada. Ini akan sangat berguna, karena bila kita ingin menerbitkan buku, kita harus menyesuaikan naskah kita dengan selingkung penerbit yang kita tuju.
Menulis buku antologi memang mengasyikkan. Bukan hanya euforia sesaat ketika pengumuman, tapi beban naskah juga lebih ringan. Bahkan kita tak perlu bersusah-payah mengurusi proses terbit karena semuanya telah ditanggung penanggung jawab audisi/lomba tersebut.
Meski begitu, proses belajar hendaknya tetap dilakukan. Kita harus bisa memilah dan memilih audisi/lomba yang mampu membuat kemampuan menulis kita lebih baik. Pilihlah yang berbobot. Hal paling mudah untuk menilai apakah sebuah audisi/lomba cukup berbobot adalah dengan melihat penyelenggaranya. Carilah informasi detail, terutama follow up penerbitannya. Mayorkah? Indie-kah?
Aneka audisi/lomba dengan tema dan genre berbeda akan semakin memperkaya tulisan kita. Tapi jangan terjebak. Ada baiknya proses belajar menulis kita tingkatkan levelnya. Misalnya antologi untuk 40 orang, kemudian naik menjadi 20 orang, 10, 5 lalu buku solo. Meski seringkali tidak signifikan dalam hal porsi naskah yang harus kita sumbangkan, toh target semacam ini akan melatih mengurangi beban kita sedikit demi sedikit. Kepuasan batin yang semakin naik, bisa menjelma menjadi semangat yang luar biasa untuk menulis buku solo.
Sembari menjajal kemampuan menulis dengan mengikuti aneka audisi/lomba, cobalah untuk mengenal dunia penulisan yang sebenarnya. Kenalilah dari sisi pembaca. Kenali pula karakter dan selingkung penerbit. Termasuk mencoba menganalisa pasar berdasarkan buku yang sedang trend dan lain sebagainya. Pengetahuan ini akan memudahkan kita bila ingin menerbitkan buku. Paling tidak, kita tahu medan pertempuran yang ingin kita menangkan.
Berbagai media tersedia sebagai tempat berekspresi dalam bentuk tulisan. Personal web/blog tanpa biaya, social media, surat kabar, majalah, maupun dalam bentuk buku. Kita bisa memilih mana yang nyaman untuk kita menuangkan ide-ide maupun meluapkan perasaan. Pemilihan media untuk menulis seringkali berdasarkan pada niat awal menulis. Sejauh mana kita ingin menulis, siapa saja yang kita inginkan membaca tulisan kita, termasuk apakah kita ingin orang mengakui kita sebagai penulis yang sebenarnya.
Menulis untuk diri sendiri, tentu saja berbeda dengan menulis untuk ‘dikonsumsi’ orang lain. Ada kaidah-kaidah tertentu yang harus dipatuhi dalam membuat tulisan yang nantinya dipublish untuk umum. Terlebih bila dimaksudkan untuk tujuan komersil. Ada aturan penggunaan EYD, bobot dan genre tulisan, serta nilai jual yang harus diperhatikan.
Menulis juga butuh proses belajar. Bagi kita yang mengawali karir menulis dari nol, banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membuka jalan. Yang paling penting adalah menulis dan terus menulis, kemudian cukup percaya diri untuk membiarkan orang lain membaca dan menilai tulisan kita. Semakin banyak orang membaca, akan semakin banyak pula referensi tentang penerimaan mereka.
Maraknya audisi buku antologi dan lomba menulis adalah kesempatan yang baik untuk mengukur kemampuan menulis kita. Bila kita terbiasa menulis suka-suka, maka mengikuti audisi/lomba akan memaksa kita belajar. Tema dasar, jumlah kata atau halaman, segmentasi, dan lain-lain aturan yang ditetapkan, akan membantu proses kreatif kita untuk menulis dengan batas. Di sinilah kita ditantang untuk menyesuaikan tulisan kita dengan selingkung yang ada. Ini akan sangat berguna, karena bila kita ingin menerbitkan buku, kita harus menyesuaikan naskah kita dengan selingkung penerbit yang kita tuju.
Menulis buku antologi memang mengasyikkan. Bukan hanya euforia sesaat ketika pengumuman, tapi beban naskah juga lebih ringan. Bahkan kita tak perlu bersusah-payah mengurusi proses terbit karena semuanya telah ditanggung penanggung jawab audisi/lomba tersebut.
Meski begitu, proses belajar hendaknya tetap dilakukan. Kita harus bisa memilah dan memilih audisi/lomba yang mampu membuat kemampuan menulis kita lebih baik. Pilihlah yang berbobot. Hal paling mudah untuk menilai apakah sebuah audisi/lomba cukup berbobot adalah dengan melihat penyelenggaranya. Carilah informasi detail, terutama follow up penerbitannya. Mayorkah? Indie-kah?
Aneka audisi/lomba dengan tema dan genre berbeda akan semakin memperkaya tulisan kita. Tapi jangan terjebak. Ada baiknya proses belajar menulis kita tingkatkan levelnya. Misalnya antologi untuk 40 orang, kemudian naik menjadi 20 orang, 10, 5 lalu buku solo. Meski seringkali tidak signifikan dalam hal porsi naskah yang harus kita sumbangkan, toh target semacam ini akan melatih mengurangi beban kita sedikit demi sedikit. Kepuasan batin yang semakin naik, bisa menjelma menjadi semangat yang luar biasa untuk menulis buku solo.
Sembari menjajal kemampuan menulis dengan mengikuti aneka audisi/lomba, cobalah untuk mengenal dunia penulisan yang sebenarnya. Kenalilah dari sisi pembaca. Kenali pula karakter dan selingkung penerbit. Termasuk mencoba menganalisa pasar berdasarkan buku yang sedang trend dan lain sebagainya. Pengetahuan ini akan memudahkan kita bila ingin menerbitkan buku. Paling tidak, kita tahu medan pertempuran yang ingin kita menangkan.
Etyastari Soeharto
sumber: http://www.republika.co.id/berita/komunitas/women-script-co/12/03/29/m1mpey-menulis-sebuah-proses
Manfaat Berorganisasi
Organisasi memiliki definisi koordinasi sejumlah kegiatan manusia yang direncanakan untuk mencapai suatu maksud atau tujuan bersama melalui pembagian kerja atau tugas dan fungsi serta melalui serangkaian wewenang dan tanggung jawab.
Banyak banget manfaat yang diperoleh apabila kita aktif dalam suatu organisasi baik organisasi formal, informal dan sosial. Di bawah ini terdapat beberapa manfaat berorganisasi.
Teamwork
Organisasi adalah kesatuan dari berbagai orang yang bekerja untuk satu tujuan. Dari mulai brainstorming ide, rapat, nyusun anggaran, eksekusi kegiatan, sampai evaluasi, semua dipikirkan dan dikerjakan bersama-sama. Setiap anggota bagai roda mesin yang saling menggerakkan. Kalau salah satu macet, hasil akhirnya bisa tidak sesuai tujuan awal.
Sikap Mental Positif
Berorganisasi bikin kita sadar akan pentingnya sikap-sikap mental yang positif. Dengan segala tanggung jawab di organisasi, kita dilatih disiplin, jujur, berpikir kritis, dan mampu memanage waktu. Kita juga semakin terlatih untuk berani membuat suatu keputusan. Sikap-sikap ini akan terpakai di dunia kerja, sehingga memungkinkan karir kamu naik lebih cepat.
Berdiskusi dan Berbeda Pendapat
Karena di organisasi kita bekerja sama dengan banyak orang yang karakternya beda-beda, kita dituntut untuk mampu menghargai pendapat dan mau mendengar pendapat orang lain. Kita juga ‘dipaksa’ untuk berani mengemukakan pendapat lewat diskusi, baik itu dalam rapat, maupun kepada pihak-pihak yang lebih tua, seperti guru, kepala sekolah, atau rektor yang akan kita ajak kerja sama.
Belajar Manajemen Organisasi
Aktif di organisasi mengajarkan kita untuk bertindak sesuai prosedur dalam manajemen organisasi. Misalnya, tentang tata cara rapat, cara mengajukan proposal yang baik, termasuk step-step dalam mengerjakan sebuah proyek. Misalnya, kamu bergabung dalam OSIS dan akan mengadakan suatu kegiatan, maka kamu akan terlibat dalam acara tersebut dari sejak masih berupa ide mentah sampai saat hari H berlangsung.
Bersosialisasi
Pergaulan akan meluas, kita dapat banyak teman dari adik kelas, senior, pejabat sekolah/kampus, pihak sponsor, dan banyak kontak penting lainnya.
Ada beberapa tips-tips di bawah ini untuk tahu bagaimana caranya menjadi anggota yang baik, pengurus yang berdedikasi, dan pemimpin yang respected.
Jabatan : Anggota
Kalau kamu sudah terdaftar jadi anggota suatu organisasi, jadilah anggota yang aktif.
- Selalu hadir dalam setiap undangan rapat dan aktif berpendapat dalam rapat tersebut. Siapkan ide banyak-banyak sebelum rapat dimulai.
- Kerjakan setiap tugas yang diberikan kepadamu dengan maksimal, bahkan melebihi ekspektasi organisasi.
- Setiap habis rapat atau kumpul, jangan langsung pulang. Sediakan waktu untuk ngobrol-ngobrol dengan sesama anggota atau pengurus.
- Tunjukkan dedikasi kamu dengan sering memberi usulan (kritik dan saran) yang bisa memajukan organisasi.
WATCH OUT! Tantangan menjadi anggota organisasi :
- Sebelum mutusin untuk masuk sebuah organisasi, kenali dulu baik-baik organisasi tersebut. Jangan memaksakan diri untuk masuk kalau tidak sesuai dengan kesukaan.
- Supaya maksimal berorganisasi sekaligus sukses belajar, harus bisa bagi waktu dengan baik.
- Sebuah kelompok dengan macam-macam karakter dan kepribadian pasti ada saja konfliknya. Jangan sampai terpengaruh kalau ada isu-isu yang memecah organisasi.
Jabatan : Pengurus
Apakah itu sekretaris, bendahara, seksi humas, atau wakil ketua, pengurus organisasi adalah orang-orang yang terpilih.
- Berusahalah tampil beda dari kepengurusan tahun yang lalu. Jangan cuma copy-paste kalau disuruh untuk membuat proposal kegiatan tahunan. Kalau Himpunan Mahasiswa dari tahun ke tahun bikin acara musik pop, gimana kalau tahun ini kalian bikin malam orchestra. Ide-ide seger yang beda ini bikin kepengurusanmu punya cirri khas sendiri.
- Jalani peran dan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Orang udah percaya bahwa kita mampu, kita harus bisa membuktikannya.
- Adalah tugas pengurus to keep the organization alive. Rajin-rajin bikin kegiatan dan acara yang seru, untuk menambah semangat anggota dan mempersolid organisasi.
- Jaga sikap karena kamu membawa nama baik organisasi. Kamu juga harus bisa jadi teladan untuk para anggota.
WATCH OUT! Ngga gampang lho menjadi pengurus yang berdedikasi:
- Betapa pun positifnya berorganisasi, kewajiban utama kita adalah belajar. Watch out, jangan sampai organisasi mengorbankan prestasimu. Kalau kamu merasa kewalahan, sebaiknya delegasikan sebagian tugasmu kepada orang lain atau junior-junior.
- Sering menghabiskan waktu dengan sesama pengurus bisa menimbulkan kesan kamu tidak mau bergaul dengan orang lain selain pengurus. Hal seperti ini harus dihindari. Kalau gap antara pengurus dan anggota terlalu lebar, kalian akan dicap geng eksklusif yang nggak mau berbaur.
Jabatan : Pemimpin
Jabatan ketua atau pemimpin berhubungan erat sama kepercayaan.
- Punya visi, misi, dan aksi yang jelas untuk kemajuan organisasi.
- Sebagai pemimpin kita dituntut bekerja ekstra dan berbuat lebih.
- A good leader harus bisa mengkoordinir anggotanya untuk mencapai tujuan bersama.
- Berani membuat keputusan dengan cepat dan semoga tepat.
- Selalu bersikap netral dalam setiap permasalahan dan mampu jadi pengasuh untuk bawahannya.
- Kesalahan anak buah merupakan tanggung jawab pemimpin. Pemimpin harus bisa memberikan alasan kuat yang mendasari kesuksesan dan kegagalan anggota-anggotanya.
WATCH OUT! Are you a good leader?
- Jadilah panutan dan teladan. Kalau kamu selalu tepat waktu , ‘anak buah’ tentu malu kalau sampai terlambat. Be an example by doing it the right now, jangan no action talk only aja!!
- Seorang pemimpin yang baik harus mau jadi pengikut yang baik. Jangan hanya pintar ngomong, tapi juga peka mendengar. Tidak hanya hobi mengkritik, tapi juga bersedia meminta maaf ika salah.
- Menjadi pemimpin bukan berarti kamu terbebani dengan semua perkara organisasi. Delegasikan tugas kepada orang yang kamu anggap mampu. Untuk itu kenali baik anggota-anggotamu. Jangan sampai kamu kasih tanggung jawab mendekor sama teman yang tidak mempunyai sense of art.
- A good leader bukan cuma mencari sukses untuk dirinya, tapi juga membawa seluruh anggota sukses bersama-sama. Siapkan juga calon-calon pengganti kepengurusanmu dengan proses regenerasi.
Sabtu, 17 Maret 2012
5 Tips 'Me Time' Bagi Remaja
Jika kamu sebagai seorang Remaja tentunya memiliki beragam aktivitas sehar-hari. Namun ada kalanya merasa jenuh banget dengan aktivitas. Apalagi dengan kegiatan yang rutin (kayak gitu terus). Atau kegiatan kita tidak beraturan, sering ada kegiatan yang bentrok. Lalu mungkin muncul rasa jenih, masalahnya bagaimana mengatasi Rasa jenuh?
Ada istilah populer di kawula remana namanya Me Time. Me Time adalah sering diartikan waktu khusus bagi kita dimana kita bisa menyalurkan kepenatan, kreativitas, dan hal-hal lain yang berbau kita banget. waktu dimana kita memiliki saat yang tidak diganggu oleh kesibukan atau diganggu oleh orang lain.
Bagi Sebagian orang Me Time sangat penting dan berpengaruh untuk aktivitassehari-hari. Berikut adabeberapa tips agar kita memiliki Me time yang cukup sehingga siap menajalani hari dengan semangat dan sempurna.
1. Buat Manajemen Waktu yang baik
Memang terlihat sederhana (sepele) tetapi kalau kita terbiasa menulis dan menjadwal daftar kegiatan dalam sehari-hari, maka akan menjalani hari dengan teratur dan terencana. Sehingga alokasi waktu juga bisa lebih terlihat.
2. Tetapkan Reminder
Jika sudah membuat jadwal kegiatan maka selanjutnya adalah menyiapkan alat yang bisa mengingatkan. Mengapa perlu, kerena sebagian besar kita adakalanya pelupa. Misalnya dengan bantuan Handphone yang umunya sudah ada fasilitas Reminder. Jadi tinggal masukan data di Handphone (HP), nanti HP akan memberikan alarm secara otomatis. Fungsi pengingat adalah supaya kita mematuhi dengan jadwal yang kita buat sendiri.
3. Batasi waktu Me Time
Me Time memang penting, tetapi jika terlalu lama tidaklah baik. Jadwal yang lain mungkin akan molor dan rencana-renvana lain bisa jadi menjadi berantakan, tertunda atau gagal. Selain juga mungkin ada faktor Psikologis yang tidak baik jika waktu sendiri terlalu lama dan kurang bersosialisasi. Makanya perlu ada pembatasan.
4. Makan dan istirahat yang cukup
Hampir semua kegiatan terutama yang yang masih sekolah baik intra/ektra kurikuler di sekolah/kampus memerlukan tenaga. Tenaga bisa berupa Tenaga Fisik atau fikiran. Makanya perlu makan dan istirahat yang cukup supaya cukup energi untuk kegiatan selajutnya. Jadi kita tetap siap meskipun dalam sehari sangat sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk Me Time.
5. Jangan Lupa Berdoa
Minta kepada Tuhan agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menjalani hari-hari kita. Dan berdoa agar Tuhan senantias meridoi apa yang kita perbuat. Berdoa dan beribadah sesuai agama dan keyakina kita supaya dijauhakan dari hal-hal yang egatif ketika kita sedang Me Time.
Rabu, 14 Maret 2012
Follow Us On Twitter
Yeey!! Akhirnya MPK SMAN 6 Bogor punya twitter!! :)
Akun Twitter ini diharapkan kedepannya bisa jadi jembatan bagi siswa/siswi SMAN 6 Bogor yang ingin menyampaikan saran atau kritiknya entah tentang OSIS, MPK ataupun tentang Sekolah. Selain itu, akun ini juga diharapkan bisa menjadi media yang dapat merangkul seluruh Anggota, Alumni serta seluruh Warga SMAN 6 Bogor melalui informasi-informasi yang diberikan. Kemudian, diharapkan nantinya akun ini dapat menjadi wadah bagi Anggota MPK agar dapat berinteraksi dengan para Alumni yang pernah menjadi bagian dari MPK untuk dapat saling berbagi kisah/pengalaman demi MPK yang lebih baik kedepannya. Dan yang tidak kalah penting adalah akun ini dibuat untuk dapat menjadi Informan yang akan menginformasikan tentang rapat, acara atau kegiatan lainnya kepada seluruh Anggota MPK SMAN 6 Bogor. Ya, bisa dibilang sebagai Alternatif Jarkom yang biasanya melalui pesan singkat.
Akun Twitter ini diharapkan kedepannya bisa jadi jembatan bagi siswa/siswi SMAN 6 Bogor yang ingin menyampaikan saran atau kritiknya entah tentang OSIS, MPK ataupun tentang Sekolah. Selain itu, akun ini juga diharapkan bisa menjadi media yang dapat merangkul seluruh Anggota, Alumni serta seluruh Warga SMAN 6 Bogor melalui informasi-informasi yang diberikan. Kemudian, diharapkan nantinya akun ini dapat menjadi wadah bagi Anggota MPK agar dapat berinteraksi dengan para Alumni yang pernah menjadi bagian dari MPK untuk dapat saling berbagi kisah/pengalaman demi MPK yang lebih baik kedepannya. Dan yang tidak kalah penting adalah akun ini dibuat untuk dapat menjadi Informan yang akan menginformasikan tentang rapat, acara atau kegiatan lainnya kepada seluruh Anggota MPK SMAN 6 Bogor. Ya, bisa dibilang sebagai Alternatif Jarkom yang biasanya melalui pesan singkat.
Yuk, mari buka akun twitter kita
@MPKSMAN6BGR
dan langsung aja klik "follow"
~Selamat Bergabung~
Tahun Depan, Ujian Tulis SNMPTN Dihapus
JAKARTA - Peningkatan kredibilitas Ujian Nasional (UN) mutlak dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), terutama dengan adanya rencana penghapusan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) jalur tertulis.
Hal ini disampaikan Dirjen Dikti Djoko Santoso ketika berbincang dengan okezone belum lama ini. Djoko menyebutkan, mulai tahun depan ada yang berbeda dengan pelaksanaan SNMPTN.
"Waktu pelaksanaan pasti tiap tahun berbeda. Namun, untuk tahun depan, jalur tulis SNMPTN sudah tidak ada lagi. Jadi penerimaan mahasiswa baru di PTN hanya melalui dua jalur, yakni SNMPTN jalur undangan dan jalur mandiri," kata Djoko di kantornya, Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan.
Mengenai komposisi, lanjutnya, tetap sama dengan tahun ini. Artinya, SNMPTN memiliki peran dominan dibandingkan jalur mandiri.
"Komposisinya tetap 60-40 untuk jalur undangan dan mandiri. Kalau tahun ini 60 persen masih terbagi dua antara jalur undangan dan tertulis tapi mulai tahun depan, penerimaan mahasiswa baru melalui jalur seleksi nasional hanya berdasarkan nilai UN dan rapor," ujarnya menjelaskan.
Menurut Djoko, kebijakan ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi UN dan integrasinya dengan perguruan tinggi. Dia menyebutkan, untuk mengaplikasikan kebijakan ini dibutuhkan UN dengan tingkat kredibilitas yang tinggi.
"Untuk itu, kami terus berupaya meningkatkan kredibilitas UN setiap tahunnya. Sehingga ketika kebijakan ini diterapkan, PTN tidak lagi meragukan UN sebagai salah satu syarat penerimaan mahasiswa baru," tutur Djoko.
Mantan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengungkapkan, meski ujian tertulis ditiadakan, ujian keterampilan akan tetap dilaksanakan. "Untuk jurusan atau bidang studi yang menuntut adanya ujian praktik, ujian keterampilan akan tetap dilakukan," ujarnya.(rfa)
....................................................................................................................................................................
Sumber: (http://kampus.okezone.com/read/2012/03/12/373/591173/tahun-depan-ujian-tulis-snmptn-dihapus)
Langganan:
Postingan (Atom)