Pages

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Oktober 2012

"There is no Bad Soldiers, Only Bad Commanders"


Judul diatas merupakan moto militer Pak Harto yang dijabarkan pada buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’

   Pada hakikatnya, semua manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun tidak semuanya memiliki kapabilitas untuk itu. Sebagai contohnya, Meskipun Indonesia sudah mengalami pergantian Presiden selama 7 kali, lalu apakah semua presiden pada setiap pergantian tersebut dapat dikatakan sukses memimpin Indonesia beserta segala permasalahan yang menyertainya? Apakah Pak Harto yam memimpin hampir 32 tahun lamanya dapat dikatakan sukses? Apakah Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah 10 tahun menjabat sebagai presiden dalam dua periode juga dapat dikatakan sukses?

  Tentu tolak ukur kesuksesan seorang pemimpin bukan terletak pada berapa lama ia menjabat atau seberapa kuat ia mempertahankan jabatannya. Tolak ukur kesuksesan pemimpin dapat dilihat dari seberapa mampukah ia mengayomi seluruh anggota/rakyatnya dalam segala situasi dan kondisi, seberapa besar pengaruh sikap dan kepemimpinannya terhadap tingkat penghormatan dan keseganan rakyat terhadap dirinya serta berapa jauh ia mampu membimbing dan membawa anggota/rakyatnya kepada kondisi/kehidupan yang lebih baik.

  Menjadi seorang pemimpin tentu tidak mudah. Bukan sekadar tentang kekuasaan dan penghormatan. Ada tanggung jawab besar yang harus diemban. Kewajiban yang harus dilakukan pun tak kalah besarnya. Bukan hanya menjadi, mencari dan memilih pun sama sulitnya. Kita tidak bisa asal menunjuk A atau B sebagai pemimpin tanpa pertimbangan dan pemikiran yang panjang. Demi menemukan sosok pemimpin yang tidak sekadar ditakdirkan sebagai pemimpin namun juga berkompeten untuk menjadi seorang pemimpin, maka dari itu, sangat diperlukan adanya pendidikan guna menumbuhkan atau mungkin mengasah jiwa kepemimpinan sejak dini. Mengapa perlu sedemikian rupa? Sebagai individu/organisasi/lembaga yang berorientasi pada masa depan, mempersiapkan apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang adalah hal terpenting yang harus dilakukan.
Kita sebagai remaja merupakan calon penerus bangsa. Kelak, kelangsungan hidup negara ini akan sangat bergantung pada kita. Suka tidak suka, mau tidak mau. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempersiapkan diri. Seperti pada kalimat diatas “Semua manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun tidak semuanya memiliki kapabilitas untuk itu”. Lalu, selagi masih muda dan ada cukup waktu, mengapa kita tidak mencari cara yang dapat mengetes apakah kita berkemampuan menjadi seorang pemimpin atau tidak? Seperti dengan ikut serta dalam majalah sekolah, menjadi pejabat kelas, organisasi maupun ekstrakulikuler. Dengan mengikut sertakan diri dalam kegiatan-kegiatan tersebut, kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan kita dalam memimpin. Kita akan dapat mempersiapkan diri dan menyusun rencana untuk berkontribusi lebih jauh dalam kemajuan bangsa ini di masa yang akan datang. Kita akan menjadi sosok yang visioner. Maka kita akan mudah mencari tahu kemana kita akan melangkah setelah ini, akan menjadi apakah kita pada masa yang akan datang, serta akan dalam bentuk apakah kita berkontribusi bagi negeri.

  Karena menjadi pemimpin sangatlah sulit, maka tidak sembarang orang bisa menjadi pemimpin. Seorang pemimpin haruslah visioner, memiliki ambisi, memiliki mental yang kuat, peka terhadap situasi, mampu mengayomi bawahannya, berkemampuan verbal yang baik serta yang terpenting, bertanggung jawab. Sulitnya bukan hanya sebatas pada menjalankan tugas dan program kerja, namun juga bagaimana membimbing bawahan serta mengkondisikan organisasi/lembaga agar tetap berjalan kondusif.
Lalu apa maksud kutipan kata-kata Pak Harto diatas?
Moto militer Pak Harto mengatakan bahwa tidak ada prajurit yang buruk, yang ada adalah pemimpin yang buruk. Hal lain yang dapat menjadi alasan mengapa menjadi pemimpin sulit adalah karena seorang pemimpin harus berjiwa besar. Seperti moto militer Pak Harto, seorang pemimpin harus siap menanggung kesalahan apabila ada bawahannya yang melakukan kesalahan. Sekalipun ia sama sekali tidak ikut campur dan tidak tahu-menahu. Mengapa harus demikian? Pemimpin merupakan pusat komando suatu organisasi/lembaga. Dalam prinsip managemen diterangkan, dimana salah satunya adalah kesatuan komando. Apakah kesatuan komando? Yaitu, segala kegiatan ataupun pekerjaan yang akan dilakukan oleh seseorang harus berdasarkan perintah yang diberikan pemimpin. Agar pekerjaan masing-masing orang tidak berantakan sehingga dapat mencapai tujuan organisasi/lembaga yang dikehendaki, maka semua kegiatan dan pekerjaan hanya akan dan harus bepusat dapa satu perintah, yaitu perintah pemimpin. Maka apabila terdapat kesalahan yang dilakukan oleh seorang bawahan maka pemimpin berhak disalahkan. Karena si bawahan tersebut hanya menerima satu perintah yang merupakan perintah dari si pemimpin. Jadi, mungkin terdapat kesalah-pahaman antar bawahan dan pemimpin ketika perintah diberikan atau mungkin si pemimpin kurang jelas membeberkan perintahnya sehingga menyebabkan si bawahan melakukan kesalahan.

   Mungkin diantara yang lain, menanggung kesalahan bawahan merupakan yang tersulit untuk dilakukan oleh seorang pemimpin. Karena pada dasarnya manusia cenderung menyalahkan orang lain, bahkan walaupun kesalahan tersebut terletak pada dirinya sendiri. Manusia cenderung berintrospeksi di kemudian hari. Maka hanya yang mampu menahan gengsi dan sifat dasar tersebut lah yang akan mumpuni menjadi seorang pemimpin yang berkapabilitas tinggi.

######

   Tidak semua orang mampu menjadi pemimpin. Tidak dapat disangkal, Semua orang pasti menginginkan kekuasaan dan penghormatan dari orang  lain terhadap dirinya. Tapi sayangnya, menjadi seorang pemimpin, urusannya tidak akan sedangkal itu. Urusan dan tugas pemimpin akan sangat banyak dan luas cakupannya. Maka, sangatlah dibutuhkan pemimpin yang mampu menjalankan urusan dan tugas yang banyak dan luasnya sampai mampu membuat putih rambut dengan mengkondisikan bawahan serta organisasi/lembaga yang dipimpinnya agar tetap kondusif secara bersamaan namun tetap seimbang. Serta satu kemampuan yang tidak kalah penting yang harus dimiliki pemimpin; kemampuan memisahkan antara urusan dan permasalahan pribadi dengan tugas dan kewajiban sebagai pemimpin.

  Semua orang berhak menjadi pemimpin. Tuhan pun menakdirkan begitu. Namun tidak semuanya berkemampuan untuk itu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengasah kemampuan agar dapat menjadi pemimpin yang baik. Setidaknya bagi diri sendiri. Seperti dengan mengikuti organisasi atau kegiatan-kegiatan tertentu. Paling tidak disana kita belajar berkomunikasi dengan orang lain dan bertanggung jawab terhadap tugas dan amanah yang kita miliki.

    Kalau menjadi pemimpin bagi diri sendiri saja sudah tidak mampu, lalu bagaimana jika kita dipercaya untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi/lembaga yang tanggung jawabnya mencakup hal yang lebih luas? (Ai)

Rabu, 30 Mei 2012

Tinggalkan Kebiasaan Telat


Telat, jam molor atau jam karet sepertinya sudah menjadi budaya di negara kita. Tapi tahukah Sobat kalau telat bisa mengurangi produktivitas kita. Bagaimana tidak, telat 15 menit saja, berarti waktu belajar (kalau masih sekolah) dan waktu kerja (kalau sudah kerja) otomatis juga terpotong.
Buat kamu yang pengen banget berubah. Pengen jadi seorang yang tepat waktu? Nggak mau mainan yang memacu adrenalin lagi? Nih dia tips mengatur waktu yang jitu punya deh (kalau diterapin):
 Tapiii, sebelumnya kita perlu tau dulu, apa sih yang menyebabkan kita suka telat dan membuang-buang waktu?
 Hidup yang Nggak Teratur, Nggak Rapi, Nggak Bersih dan Nggak Terjadwal!
 Percaya nggak? Coba deh perhatiin… Karena nggka punya jadwal dan perencanaan yang bagus, kita sering menganggap enteng sesuatu. Karena nggak rapi, kita terbiasa buat “sibuk nggak menentu” waktu mau pergi kemana.
 Tips untuk mengatur waktunya udah kita dapat sebenarnya dalam kalimat besar di atas. Hehe. Walau gitu, yuk kita telusuri lebih lanjut lagi dan lebih panjang lagi!
 1. Buat Jadwal
 Kesannya gimana gitu yah. Rada-rada males. Aneh aja. Tapi, bagus banget! Apalagi buat kamu yang suka lupa. Nggak harus dituangkan dalam tulisan, paling nggak rencanain di dalam pikiran kamu sendiri – apa-apa saja sih yang bakal aku lakuin.
 Namun, alternatif berikut berharga banget jadi sarana pengingat jadwal kamu:
 Kalender hape: Buat pengingat hal-hal penting yang bakal kamu lakuin besok atau beberapa hari mendatang. Ingat! Buat alarm/pengingatnya sekitar 1 jam sebelum jam kegiatanmu itu.
 Kalender: Entah kalender dinding atau kalender meja, coretin aja dengan kegiatan-kegiatan yang bakal kamu lakuin.
 Buku catatan kecil: Kamu bisa catat PR kamu hari ini, bisa catat kegiatan yang bakal kamu lakukan besok, terus mana yang udah dikerjain tinggal ditandai deh.
 2. Rajin-rajin Lihat Jadwal
 Haha. Untuk apa ada jadwal kalau lupa juga dilihat!
 3. Perkara Besar Baru Perkara Kecil
 Kalo kamu pernah dengar gini: perkara kecil dulu baru perkara besar. Nah, dalam mengatur waktu, kalimat itu nggak cocok! Malah sebaliknya, kita harus ngedahuluin kegiatan-kegiatan terpenting dulu!
 Keseringannya remaja senang banget ngelakuin sesuatu yang menjadi kesukaan kita terlebih dahulu. Yang kasihannya, kesukaan kita itu nggak terlalu penting! Misal nih, kita lebih memilih nonton teve dulu, baru setelah itu ngerjain pe-er. Atau main-main dulu, baru dah ngerjain tugas-tugas rumah.
 Bukan dilarang untuk ngelakuin apa yang kita sukai. Tetapi, faktanya kalo kita ngedahului aktivitas-aktivitas terpenting dulu, ntar pas ngerjain sesuatu yang kita sukai, rasanya lega banget, kayak punya banyak waktu!
4. Biasakan Hidup Rapi, Bersih dan Teratur!
 Tahu ngga yang sering banget menyebabkan kita telat atau terlambat? Berbalik dengan yang disebutkan di poin ini, kita sering banget semrawutan. Coba deh ingat-ingat lagi, ketika kita mau pergi, mana udah kepepet, eh ntah itu kunci motor, dompet, tas, kaos kaki dan bahkan sepatu nggak tau letaknya di mana. Terpaksa deh nyari lagi.
 5. Terapin!
 Yang paling penting adalah penerapannya! Mulai dari matuhin jadwal, tetapin prioritas sampai hidup bersih, rapi dan teratur. Eits, jangan ada hari pengecualian lho… Ntar bakal kambuh lagi.
 Intinya, silahkan diserapin bagus-bagus tulisan besar yang di atas itu. Setelah itu, lakukan kebalikannya yaitu poin-poin yang sudah dijabarin ini
 Mari kita contoh bangsa Jepang. Jepang adalah salah satu dari segelintir negara Asia yang sanggup menyaingi Amerika dan Eropa, baik dari segi ekonomi, pendidikan, budaya dll. Mengapa? Salah satu alasannya karena masyarakat Jepang sangat menghargai waktu dan kesempatan. Dalam bekerja, belajar, hingga menghadiri pertemuan, mereka senantiasa tepat waktu. Tepat waktu untuk mulai dan tepat waktu pula untuk berakhir. Mereka akan datang sebelum acara dimulai, dan tidak akan beranjak sebelum acara benar-benar berakhir. Waktu yang ada digunakan seefektif mungkin. (Sangat berkebalikan dengan orang Indonesia, yang datangnya telat namun justru berlomba ingin pulang duluan). Dengan memelihara budaya tepat waktu, orang Jepang jadi lebih produktif bekerja dan meraih banyak kesempatan.

Membangkitkan Semangat Berorganisasi


Kita sebagai remaja selalu ingin menjadi pusat perhatian. Sebab dengan menjadi pusat perhatian kebutuhan aktualisasi diri kita, serasa telah terpenuhi. Demikian pula jika kita berada di lingkungan sekolah. Sering kali kita berlomba-lomba dengan segala cara untuk menarik banyak perhatian, salah satunya dengan menjadi idola remaja sekolah.
Untuk menjadi idola remaja sekolah dapat dilakukan beberapa cara, seperti memiliki prestasi akademik terbaik, menjaga penampilan menjadi yang tertampan atau tercantik di sekolah, atau dengan aktif mengikuti kegiatan sekolah. Salah satu kegiatan sekolah yang banyak memberikan manfaat bagi kita adalah kegiatan ekstra kurikuler.
Di setiap sekolah biasanya terdapat ekstrakurikuler, yaitu organisasi-organisasi yang mewadahi kegiatan para siswa. Penting gak sih keberadaan organisasi-organisasi itu, mengingat aktifitas belajar kita saja sudah terasa melelahkan?

Organisasi eksrtrakurikuler ini tentu saja ada manfaatnya. Kalau mubazir, mungkin sekolah sudah menutup kegiatan-kegiatan itu. Salah satu manfaat eksrtrakurikuler adalah wadah kita berlatih berorganisasi. Berorganisasi itu perlu lho...

Sebut saja namanya Andi, lulus kuliah dengan nilai yang membanggakan. Dengan nilai itu, ia mudah diterima kerja. Tapi masalah mulai muncul. Andi agak gagap dengan struktur organisasi perusahaan. Andi juga tidak terbiasa dengan perdebatan di rapat-rapat kerja. Maklum, selama kuliah dan sekolah, Andi tidak pernah mengikuti organisasi apa pun.

Lain lagi ceritanya dengan Heri. Nilainya memang biasa saja. Mungkin Heri bukan profile yang bagus untuk menggambarkan seorang mahasiswa yang punya kemampuan membagi waktu antara belajar dengan berorganisasi. Ya, Heri seorang organisatoris di kampusnya. Tapi, pengalaman organisasinya membawa manfaat. Saat wawancara kerja, ia sudah terbiasa mengungkapkan pikiran dan pendapatnya secara verbal di depan umum. Wawancara berjalan lancar dan mengesankan. Di dunia kerja, ia tidak canggung menghadapi struktur organisasi dan rapat-rapat kerja. Dan saat ia diangkat menjadi supervisor, ia mampu memimpin bawahannya dengan baik.

Ilustrasi di atas memang tidak mewakili seluruh orang yang pernah berorganisasi atau pun tidak. Ada juga orang yang tetap luwes walau pun tidak ikut organisasi di sekolah/kuliahnya. Ada juga orang yang masih canggungan walau punya pengalaman berorganisasi. Tapi ilustrasi di atas bisa menjelaskan bagaimana manfaat berorganisasi.

Nah, apa saja manfaat dari berorganisasi?

1. Menyalurkan Minat dan Bakat

Kalau kamu hobi olahraga, tidak ada salahnya kamu ikut organisasi keolahragaan. Juga kalau kamu suka dan bercita-cita menjadi peneliti, kamu bisa coba masuk Kelompok Ilmiah Remaja. Kalau kamu suka dengan dunia kerelawanan, kamu bisa ikut Palang Merah Remaja. Atau kalau kamu suka dengan alam bebas, kamu bisa ikut organisasi pecinta alam. Semua organisasi ini mewadahi minat dan bakat kamu. Tentu saja minat dan bakat yang ditampung adalah minat dan bakat yang positif. Ayo, coba gali, adakah minat dan bakat kamu yang sesuai dengan organisasi eksrtrakurikuler di sekolah?

Dan jangan lupa, setiap orang punya bakat masuk menjadi orang yang baik. Setiap orang punya minat untuk masuk surga. Rohani Islam siap menampung minat dan bakat kamu itu. Apa pun organisasi yang kamu ikuti di sekolah, pastikan kamu juga ikut Rohis.

2. Ajang Bersosialisasi

Gaul bukan berarti kamu suka jalan-jalan ke mal, cafe, atau tempat nongkrong lain. Kamu aktif di organisasi, bertemu dengan teman-teman se-ide dan se-perjuangan, suka berkumpul dengan mereka mencurahkan gagasan-gagasan yang hebat, maka kamu adalah anak gaul yang sejati.

Karena manusia itu makhluk sosial, maka kita membutuhkan manusia yang lain. Di organisasi lah kita bisa menemukan manusia yang "kita butuhkan". Mungkin manusia itu adalah orang yang bisa menjadi teladan kita, mungkin manusia itu adalah tempat curhat kita, atau manusia itu tempat kita meminjam uang. Apa pun kebutuhan itu, kita butuh manusia lain.

Alangkah indahnya kalau kawan-kawan tempat kita bersosialisasi adalah orang-orang yang sholeh atau orang-orang yang punya semangat menimba ilmu keislaman, seperti di Rohis. “Seseorang dapat dinilai dari kadar agama temannya, oleh karena itu hendaknya salah satu dari kalian meneliti dahulu siapa yang akan ia jadikan teman.” (HR. al Hakim)

3. Belajar Menjadi Pemimpin, Bekerjasama, dan Tanggung Jawab

Dalam organisasi, ada pembagian tugas. Tugas itu bisa sebagai pemimpin, atau sebagai bawahan. Bila kita ditunjuk menjadi pemimpin - entah itu ketua umum atau ketua departemen, kita akan mendapat pengalaman belajar memimpin yang sangat berharga dalam organisasi eksrtrakurikuler. Kita belajar mengatur manusia yang punya watak berbeda-beda. Memadukan mereka dengan berbagai wataknya untuk mencapai tujuan. Sebuah seni tersendiri. Bila kita sebagai bawahan, maka kita bisa belajar patuh dan menunaikan tugas dengan benar. Apa pun posisi kita, kita belajar bertanggung jawab atas peran yang telah ditentukan untuk kita.

Organisasi tentu membutuhkan kerjasama yang kompak. Kita belajar bagaimana bekerjasama, mencurahkan ide, dan menjalankan keputusan musyawarah dalam organisasi. Bila kita selama ini hanya mengenal kerjasama pada saat ujian, cobalah belajar kerjasama yang baik dalam organisasi.

4. Merangsang Kreatifitas

Tiap organisasi punya tujuan. Untuk mencapai tujuan, dibutuhkan kreatifitas dari para anggotanya. Selain itu, tugas yang diberikan pada kita pun butuh kreatifitas untuk menuntaskannya. Dalam organisasi lah kita belajar kreatifitas yang benar, bukan kreatifitas buruk seperti melakukan manuver mencontek yang jitu saat ujian.

5. Belajar Memiliki Visi, Misi, dan Perencanaan

Visi Misi? Apakah kita akan menjadi caleg? Yah... masa depan orang hanya Allah swt yang tahu. Tapi visi misi itu bukan cuma janji gombal para caleg. Setiap orang perlu memiliki visi misi dan perencanaan dalam hidupnya. Pernah membaca novel Ayat-Ayat Cinta? Di situ diceritakan bahwa sang tokoh, Fahri, memiliki perencanaan yang matang dalam hidup dan perencanaan itu dipetakan dengan apik dan ditempel di dinding kamarnya. Coba lah memiliki perencanaan dalam hidup, siapa tahu bisa bertemu gadis kaya orang Jerman di KRL Jabotabek.

Saat organisasi akan melakukan penggantian pengurus, biasanya calon ketua akan ditanya apa visi misinya. Penting untuk mengetahui visi misi sang calon, karena dari situ akan diketahui kemana organisasi akan di bawa bila calon itu terpilih. Selain itu juga bisa mengukur kecerdasan si calon.

Visi adalah cara pandang jauh ke depan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Misi adalah langkah-langkah untuk mencapai visi.

Begitulah manfaat positif dari berorganisasi. Ada berbagai manfaat lain yang akan pembaca rasakan sendiri.

Tapi ingat, untuk bisa aktif mengikuti seluruh kegiatan eskul di sekolah, kita harus pintar-pintar membagi waktu agar pelajaran sekolah tidak terganggu. Sebab, bisa-bisa eskul justru menjadi kambing hitam atau alasan untuk malas mengikuti kegiatan eskul akibat letih. Untuk bisa tetap aktif, paling tidak harus mampu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuh sehingga segala aktifitas bisa dilakukan dengan baik. “Kita juga dapat melakukan setiap tanggung jawab yang diberikan baik di kelas, maupun di luar kelas seperti tanggungjawab berorganisasi. Jangan sekali-kali menyalagunakan organisasi khususnya untuk kepentingan pribadi.

Tips jitu untuk membagi waktu berorganisasi dan belajar:
1. Bagi waktu
Buat jadwal kegiatan rutin. Misalnya, pada jam sekolah usahakan waktu belajar tidak terganggu oleh kegiatan organisasi.\
2. Posisi menentukan
Cari posisi diorganisasi yang tidak terlalu berat tugasnya dan pastinya sesuai dengan bidangmu.
3. Optimis berorganisasi
Ingatkan dirimu, kalau organisasi itu bukannya tidak penting. Ingat! Dengan berorganisasi kamu bisa terlatih untuk bersosialisasi dengan orang lain.
4. Ilmu oke, skill Organisasi Oke
Tamat sekolah, pastinya kamu tidak akan canggung lagi terhadap dunia keorganisasian, Seperti ketika kamu melanjutkan ke perguruan tinggi. 

Minggu, 23 Oktober 2011

KOMITMEN PEMIMPIN MUDA INDONESIA


Kami pemimpin muda Indonesia / berkomitmen/
Mempersembahkan segenap kemampuan kami /
Demi kembalinya kehormatan bangsa /
bagi tegaknya kejayaan / kemuliaan/ dan terwujudnya cita-cita kemerdekaan/

Hari ini kami proklamirkan/ kepada bangsa yang kami cintai/
tiada yang melatarbelakangi kami /kecuali kejujuran dan ketulusan,/
tiada ambisi pribadi/apalagi hasrat kotor untuk menguasai./

Kami meyakini/ pemimpin bukanlah soal jabatan/ bukan soal posisi struktural/
Pemimpin adalah kapasitas/ komitmen/ kualitas diri/ dan tanggungjawab/
untuk melakukan perubahan/ bagi lingkungan masyarkat kami/
Secara sadar kami memilih/ dan berkomitmen/ untuk menjadi pemimpin/ dimanapun/ kapanpun/dan dalam kondisi apapun/

Inilah Komitmen Kami/ Para Pemimpin Muda Indonesia
Kami akan terus berkarya/ dan bekerjasama/ dalam mewujudkan cita-cita kami/
menjadi pemimpin yang adil/ dan berintegritas/
Untuk Kebangkitan Indonesia baru/ yang lebih kuat dan bermartabat/

Semoga Alloh meridoi komitmen kami

Atas nama
Pemimpin Muda Indonesia
Siswa-siswi SMA Negeri 6 Bogor
 
 

Bogor, 28 Oktober 2011


Model-Model Kepemimpinan


a. Tipe instruktif,
tipe ini ditandai dengan adanya komunikasi satu arah. Pemimpin membatasi peran bawahan dan menunjukkan kepada bawahan apa, kapan, di mana, bagaimana sesuatu tugas harus dilaksanakan. Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata menjadi wewenang pemimpin, yang kemudian diumumkan kepada para bawahan. Pelaksanaan pekerjaan diawasi secara ketat oleh pemimpin.

Ciri-cirinya ;
  • Pemimpin memberikan pengarahan tinggi dan rendah dukungan.
  • Pemimpin memberikan batasan peranan bawahan.
  • Pemimpin memberitahukan bawahan tentang apa, bilamana, dimana, dan bagaimana   bawahan melaksanakan tugasnya.
  • Inisiatif pemecahan masalah dan pengambilan keputusan semata-mata dilakuakn oleh pemimpin.
  • Pemecahan masalah dan pengambilan keputusan diumumkan oleh pemimpin, dan pelaksanaannya diawasi secara ketat oleh pemimpin

b. tipe konsultatif,
Kepemimpinan tipe ini masih memberikan instruksi yang cukup besar serta penetapan keputusan-keputusan dilakukan oleh pemimpin. Bedanya adalah bahwa tipe konsultatif ini menggunakan komunikasi dua arah dan memberikan suportif terhadap bawahan mendengar keluhan dan perasaan bawahan tentang keputusan yang diambil. Sementara bantuan ditingkatkan, pengawasan atas pelaksanaan keputusan tetap pada pemimpin.

Ciri-cirinya :
ü Pemimpin memberikan baik pengarahan maupun dukungan tinggi.
ü Pemimpin mengadakan komunikasi dua arah dan berusaha mendengarkan perasaan, gagasan, dan saran bawahan.
ü Pengawasan dan pengambilan keputusan tetap pada pemimpin. 


c. tipe partisipatif,
sebab kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seimbang antara pemimpin dan bawahan, pemimpin dan bawahan sama-sama terlibat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Komunikasi dua arah makin bertambah frekuensinya, pemimpin makin mendengarkan secara intensif terhadap bawahannya. Keikutsertaan bawahan untuk memecahkan masalah dan mengambil keputusan makin banyak, sebab pemimpin berpendapat bahwa bawahan telah memiliki kecakapan dan pengetahuan yang cukup luas untuk menyelesaikan tugas.

Ciri-cirinya :

Ø Pemimpin memberikan dukungan tinggi dan sedikit/rendah pengarahan.
Ø Posisi kontrol atas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dipegang secara berganti antara pemimpin dan bawahan.
Ø Komunikasi dua arah ditingkatkan.
Ø Pemimpin mendengarkan bawahan secara aktif.
Ø Tanggung jawab pemecahan masalah dan pengambilan keputusan sebagian besar pada bawahan.

d. tipe delegatif,

sebab pemimpin mendiskusikan masalah-masalah yrng dihadapi dengan para bawahan dan selanjutnya mendelegasikan pengambilan keputusan seluruhnya kepada bawahan. Selanjutnya menjadi hak bawahan untuk menentuykan bagaimana pekerjaan harus diselesaikan. Dengan demikian bawahan diperkenankan untuk menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan keputusannya sendiri sebab mereka telah dianggap memiliki kecakapan dan dapat dipercaya untuk memikul tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengelola dirinya sendiri.

Ciri-cirinya :
Ø Pemimpin memberikan maupun pengarahan sedikit/rendah.
Ø Peminpin mendiskusikan masalah bersama-sama dengan bawahan sehingga tercapai kesepakatan tentang definisi masalah yang dihadapi.
Ø Pengambilan keputusan didelegasikan sepenuhnya kepada bawahan.

pemimpin transformasional



Jenis kepemimpinan apa yang anda inginkan di tengah situasi Indonesia yang masih serba terbelakang dan miskin prestasi, sampai-sampai bangsa Indonesia sulit mencari pemimpin yang ideal, bahkan Indonesia dikategorikan negara dengan krisis kepemimpinan.

Dalam artikel ini akan saya coba gambarkan karakteristik pemimpin yang dibutuhkan bangsa Indonesia untuk mengubah situasi kondisi yang ada sekarang, yaitu jenis kepemimpinan transformasional dan visioner. Dengan demikian bangsa Indonesia tidak akan salah pilih dalam menentukan pemimpinnya di tingkat nasional maupun daerah.

Kepemimpinan transformasional merupakan sebuah proses di mana para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ketingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Para pemimpin transformasional mencoba menimbulkan kesadaran para pengikut dengan menyerukan cita-cita yang lebih tinggi dan nilai-niali moral seperti kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan, bukan didasarkan atas emosi seperti keserakahan, kecemburuan atau kebencian. Kepemimpinan transformasional berkaitan dengan nilai-nilai yang relevan bagi proses pertukaran (perubahan), seperti kejujuran, keadilan dan tanggung jawab yang justru nilai seperti ini hal yang sangat sulit ditemui di Indonesia.

Pemimpin-pemimpin di Indonesia sekarang lebih banyak sebagai pemimpin transaksional saja, dimana jenis kepemimpinan ini memotivasi para pengikut dengan mengarahkannya pada kepentingan diri pemimpin sendiri, misalnya para pemimpin politik melakukan upaya-upaya untuk memperoleh suara. Jenis pemimpin transaksional ini sangat banyak di Indonesia, hal ini bisa kita perhatikan pada saat menjelang PEMILU dimana rakyat dicekoki dengan berbagai janji setinggi langit agar pemimpin tersebut dipilih oleh rakyat, bahkan ada yang disertai dengan imabalan tertentu (money politic). Namun sungguh disayangkan ketika pemimpin tersebut terpilih ternyata sangat banyak janji ketika pemilu tidak bisa direalisasikan.

Seorang pemimpin transformasional dapat diukur dalam hubungannya dengan efek pemimpin tersebut terhadap para pengikutnya. Para pengikut seorang pemimpin transformasional merasa adanya kepercayaan, kekaguman, kesetiaan dan hormat terhadap pemimpin tersebut dan mereka termotivasi untuk melakukan lebih daripada yang awalnya diharapkan terhadap mereka.

Seorang pemimpin transormasional memotivasi para pengikut dengan membuat mereka lebih sadar mengenai pentingnya hasil-hasil pekerjaan, mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi atau negara daripada kepentingan diri sendiri dan mengaktifkan (menstimulus) kebutuhan-kebutuhan mereka yang lebih tinggi.

Kepemimpinan transformasional mencakup tiga komponen, yaitu kharisma, stimulasi intelektual, dan perhatian yang diindividualisasi. Kharisma dapat didefinisikan sebagai sebuah proses dimana seorang pemimpin mempengaruhi para pengikut dengan menimbulkan emosi-emosi yang kuat dan identifikasi dengan pemimpin tersebut. Stimulasi intelektual adalah sebuah proses dimana para pemimpin meningkatkan kesadaran para pengikut terhadap masalah-masalah dan mempengaruhi para pengikut untuk memandang masalah-masalah dari prespektif yang baru. Perhatian yang diindividualisasi termasuk memberikan dukungan, membesarkan hati dan memberi pengalaman-pengalaman tentang pengembangan diri kepada pengikut.

http://ayobangkitindonesiaku.wordpress.com/2007/11/28/kepemimpinan-transformasional-dan-visioner/

Kepemimpinan dan Keprajuritan


Pada kesempatan kali ini, saya ingin mencoba membahas mengenai masalah kepemimpinan dan keprajuritan.

Ketahuilah saudaraku, seorang pemimpin memerlukan bantuan orang lain dalam merealisasi mimpi-mimpinya. Dia butuh adanya tim yang mendukung kinerjanya agar lebih optimal. Oleh karena itu, hubungan antara pemimpin dan timnya harus baik. Diantara mereka harus terdapat sebuah ikatan hati. Karena hanya dengan ikatan hati sesorang dapat menggerakan orang lain hingga batas maksimalnya. Karena seseorang tidak akan bisa memimpin orang lain dengan baik dan benar jika dia tidak mencintai orang lain tersebut karena Allah.

Seorang pemimpin harus bisa membuat timnya lebih baik dari dirinya. Dengan kata lain seorang qiyadah harus memiliki fungsi kaderisasi sehingga keberlangsungan roda lembaga dakwahnya bisa terus berputar. Bahkan hasil dari kaderisasinya harus bisa melebihi kompetensi dirinya sehingga kepengurusan selanjutnya bisa menjadi lebih baik dan terus lebih baik. Sedangkan seorang prajurit, haruslah memiliki ketaatan kepada sang pemimpin.

Khalifah Umar r.a. pernah berkata “Tiada Islam tanpa Jamaah,dan tiada Jamaah tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa ketaatan.”

Keislaman seorang bisa dikatakan belum sempurna apabila dia tidak taat kepada pemimpinnya. Islam itu berjamaah. Visi besarnya melahirkan peradaban yang shalih, bukan sekedar individu yang shalih saja.

Selama sang pemimpin berada dalam koridor syariat Islam, maka dia wajib ditaati oleh para timnya. Akan tetapi, bisa berubah menjadi tidak wajib (bahkan tidak boleh) ditaati, ketika dia tidak benar lagi dalam kepemimpinannya itu. Dan hal itulah yang akan menyebabkan Islam kembali tegak.
 

Sebagaimana perkataan Abu Bakar Ash Shiddiq di awal pidatonya dari atas mimbar pertanggungjawaban: “Taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah. Jika aku maksiat kepada-Nya maka tidak ada kewajiban atas kalian untuk taat kepadaku”

Ya, taat kita kepada pemimpin tidak mutlak. Hukumnya jadi tentatif sesuai si pemimpin tersebut. Namun, ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya itu mutlak. Seperti apapun perintahnya, sesulit apapun dilaksanakan, tetep harus memenuhinya.


Cerita lain, Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah ditanya, “Mengapa ketika kamu menjadi khalifah, Islam jadi hancur begini?”
Dengan tenang, sang khalifah pun berkata “Ketika abu bakar menjadi khalifah, umatnya itu saya. Ketika umar menjadi khalifah, umatnya itu saya. Ketika utsman menjadi khalifah, umatnya itu saya. Tetapi, ketika saya menjadi khalifah, umatnya itu kalian.”

Subhanallah!
Percakapan ini menggambarkan pentingnya menjadi jundi yang baik. Siapa yang meragukan individu Ali bin Abi Thalib? Rasulullah telah mengungkapkan banyak keutamaan beliau. Tetapi kenapa ketika beliau memimpin, kondisi umat Islam justru terperosok dalam jurang fitnah? Dari kisah di atas bisa disimpulkan bahwa sebaik apapun sang pemimpin, ketika yang dipimpin itu tidak baik maka itu tidak akan menambah baik organisasi tersebut.


Itulah sekiranya, adab-adab antara pemimpin dan prajurit. Semoga bermanfaat.
Allahu’alam wassalamu’alaykum wr wb 












http://rezaprimawanhudrita.wordpress.com/2010/02/26/jurnal-kepemimpinan-dan-keprajuritan/

Selasa, 11 Oktober 2011

karena kami, bukan cuma segenggam angan tak bertujuan

Bogor menyambut datangnya pagi,
27 April 2009

(bintang-bintang merayu, teratur dalam kesemrawutannya. diiringi langit yang membiru, membiru dalam kepekatannya).


pagi ini
saya duduk di puncak tertinggi rumah saya,
terinspirasi akan sebuah cerita

"I have a dream"
kata-kata ini dilontarkan Marthin Luther dalam sebuah pidatonya dahulu kala
beliau bermimpi, bahwa suatu saat orang kulit hitam akan duduk berdampingan bersama orang kulit putih.
dulu hal itu mustahil, karena perbedaan ras yang saat itu menonjol, atau lebih tepatnya ditonjol-tonjolkan.
dan orang-orang hanya menganggapnya pemimpi di siang bolong.

waktu berlalu dan berpihak pada sang pemimpi.
entah bagaimana prosesnya, mimpi itu terwujud menjadi realita.
dan sekarang, bahkan ada orang kulit hitam menjadi pemimpin bagi bangsa kulit putih, bukan?

ini nyata
bukan mustahil, mimpi di siang bolong berubah menjadi fakta di pagi buta.
"hidup ini bukan rangkaian kemustahilan, kan?" (*PRIE GS)

dan di bumi yang sama ini kami berpijak,
di kolong langit yang sama kami bernaung.
kami punya jutaan mimpi, dan milyaran angan.
yang tidak hanya kami citrakan dalam pejaman mata,
namun juga kami usahakan dalam realita.
angan kami tak serupa, namun beraneka.
mimpi ini kami gantungkan, tinggi, setinggi tangan kami bisa mengaitkannya,
kami tidak pernah gentar,

dan teman kami pernah bilang,
"gantungkan cita-cita kamu setinggi langit, setidaknya kalau kamu jatuh, kamu pernah melihat bintang" (*Deno Yudha)

namun tak jarang kami terjatuh,
terjatuh bahkan saat kami berada pada titik kulminasi.
kami terjatuh sejatuh-jatuhnya, sesakit-sakitnya.
ya, kami memang melihat bintang itu, menari indah dalam konstelasi,
namun tetap saja rasanya sakit,

dan disitulah kami berada saat itu,
tersungkur dalam lembah kesuraman,
tenggelam dalam danau kekecewaan,
terkubur dalam pasir ketidakpastian.

kami penat, kami jengah, kami marah.
dan ada saat kami memutuskan untuk berpaling,
tapi itu malah membuat kami tenggelam makin dalam,
membuat kami terdorong jauh dari tangan Tuhan,

angin berbisik, semesta berucap
"bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya?"(*Q.S. Ar-Ra'du, 13;11)

(bebintang perlahan undur diri, disubstitusi oleh jingga yang menyeruak)

diri ini memang belum sejatinya tangguh
raga ini memang belum sepenuhnya utuh
hati ini masih begitu rapuh
namun kami harus bangun, bangun dari ketidakberdayaan kami,
untuk melihat senyum tertoreh pada orang yang kami kasihi
untuk melihat dada yang membusung pada orang yang kami sayangi

kami tidak ingin,
hanya sekedar menjadi prolog pada opera tak bernuansa,
atau menjadi preambule pada prosa tak beralinea,
apalagi hanya sekedar menjadi intro pada musik tanpa nada.

dan kami pun bangkit,
kami menolak untuk pasrah, membantah untuk menyerah, dan berharap dengan gairah.

"Our greatest glory is not in never falling, but in rising everytime we fall" (*Confucius)

bukankah tidak ada yang namanya berhasil, jika kamu tidak pernah gagal.
ya, kita hanya harus terus berpikir, terus bermimpi, dan terus berlari untuk mengejarnya
tidak peduli kami hanya bisa menghitung satu ditambah satu sama dengan dua,
atau kami telah bisa membedakan antara berpikir dengan otak atau berpikir dengan hati
kami percaya
"kemampuan manusia itu ada batasnya, namun usahanya tidak" (*Ismi Nurhayati)

bukankah kelebihan manusia adalah karena manusia punya akal, pikiran, dan cita-cita?
tidak seperti hewan yang berputar dalam siklus yang itu-itu saja,
hari ini makan, besok dimakan. hari ini kawin, besok melahirkan.
lantas jika kita tidak berpikir dan bercita-kita, kita mau disebut apa?
hanya seonggok daging yang punya nama?

dan sekarang, yang kami butuhkan adalah ini
"Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu.
Dan sehabis itu, yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya,
tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya,
mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya,
leher yang akan lebih sering melihat ke atas,
lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja,
dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya,
serta mulut yang akan selalu berdoa.
Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang yang masih punya mimpi dan keyakinan serta mengejarnya,
bukan orang biasa-biasa saja tanpa tujuan, mengikuti arus dan kalah akan keadaan"

(*5 cm, Donny Dirghantoro)

dan pada ujungnya, biar Tuhan yang berkarya,
"manusia itu wajib berusaha, tapi tidak wajib untuk berhasil" (*Muhammad Azhar)

(matahari pun menyapa pagi)

dan disini, saat ini, dibawah siraman mentari pagi
kami bersaksi, bahwa kami akan terus berlari meraih angan dan mimpi,
berlari, sejauh kaki kami masih bisa menyentuh bumi.
sebanyak keringat kami masih bisa membasahi,
dan berlari, secepat pikiran kami masih kuasa berrotasi.

just beat your best, then let God play the rest.

we'll fight, then we will always win (*mereka yang percaya, bahwa 'tidak mungkin' itu tidak pernah ada)

ya, kami percaya kami bisa.

karena kami, bukan cuma segenggam angan tak bertujuan..


(sebuah catatan yang dibuat menjelang pagi, di atap genting tanpa alas kaki, bermandi cahaya bintang)




sumber : http://fadlanmauli.blogspot.com/2011/08/my-masterpiece.html