Pages

Tampilkan postingan dengan label leadership. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label leadership. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 November 2012

#LDKS2012

Sebelumnya, maaf bangeeeeettt untuk postingan ini yang telatnya kebangetan wuehehehe harap maklum ;;))


LDKS tahun 2012 SMA Negeri 6 Bogor dilaksanakan pada tanggal 18-20 Oktober di Sekolah dan di Villa Bengka, Tenjolaya. LDKS tahun ini bertema PETANI SAWAH. Duh, apa tuh? Itu adalah singkatan dari Pembentukan Pribadi Tangguh dan Berani Serta Berwawasan dan Amanah. Jadi, diharapkan LDKS tahun ini akan dapat membentuk generasi muda yang berkepribadian tangguh, berani, amanah tapi juga berwawasan luas. 

LDKS diisi dengan materi-materi yang disampaikan oleh Bapak/Ibu guru, Jurit Malam, Apresiasi Seni dan beberapa kegiatan lainnya. Mau tahu gimana serunya? Yuk langsung aja liat foto-foto ini :DD








Selasa, 23 Oktober 2012

"There is no Bad Soldiers, Only Bad Commanders"


Judul diatas merupakan moto militer Pak Harto yang dijabarkan pada buku ‘Pak Harto, The Untold Stories’

   Pada hakikatnya, semua manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun tidak semuanya memiliki kapabilitas untuk itu. Sebagai contohnya, Meskipun Indonesia sudah mengalami pergantian Presiden selama 7 kali, lalu apakah semua presiden pada setiap pergantian tersebut dapat dikatakan sukses memimpin Indonesia beserta segala permasalahan yang menyertainya? Apakah Pak Harto yam memimpin hampir 32 tahun lamanya dapat dikatakan sukses? Apakah Bapak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah 10 tahun menjabat sebagai presiden dalam dua periode juga dapat dikatakan sukses?

  Tentu tolak ukur kesuksesan seorang pemimpin bukan terletak pada berapa lama ia menjabat atau seberapa kuat ia mempertahankan jabatannya. Tolak ukur kesuksesan pemimpin dapat dilihat dari seberapa mampukah ia mengayomi seluruh anggota/rakyatnya dalam segala situasi dan kondisi, seberapa besar pengaruh sikap dan kepemimpinannya terhadap tingkat penghormatan dan keseganan rakyat terhadap dirinya serta berapa jauh ia mampu membimbing dan membawa anggota/rakyatnya kepada kondisi/kehidupan yang lebih baik.

  Menjadi seorang pemimpin tentu tidak mudah. Bukan sekadar tentang kekuasaan dan penghormatan. Ada tanggung jawab besar yang harus diemban. Kewajiban yang harus dilakukan pun tak kalah besarnya. Bukan hanya menjadi, mencari dan memilih pun sama sulitnya. Kita tidak bisa asal menunjuk A atau B sebagai pemimpin tanpa pertimbangan dan pemikiran yang panjang. Demi menemukan sosok pemimpin yang tidak sekadar ditakdirkan sebagai pemimpin namun juga berkompeten untuk menjadi seorang pemimpin, maka dari itu, sangat diperlukan adanya pendidikan guna menumbuhkan atau mungkin mengasah jiwa kepemimpinan sejak dini. Mengapa perlu sedemikian rupa? Sebagai individu/organisasi/lembaga yang berorientasi pada masa depan, mempersiapkan apa-apa yang akan terjadi di masa yang akan datang adalah hal terpenting yang harus dilakukan.
Kita sebagai remaja merupakan calon penerus bangsa. Kelak, kelangsungan hidup negara ini akan sangat bergantung pada kita. Suka tidak suka, mau tidak mau. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mempersiapkan diri. Seperti pada kalimat diatas “Semua manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang pemimpin. Namun tidak semuanya memiliki kapabilitas untuk itu”. Lalu, selagi masih muda dan ada cukup waktu, mengapa kita tidak mencari cara yang dapat mengetes apakah kita berkemampuan menjadi seorang pemimpin atau tidak? Seperti dengan ikut serta dalam majalah sekolah, menjadi pejabat kelas, organisasi maupun ekstrakulikuler. Dengan mengikut sertakan diri dalam kegiatan-kegiatan tersebut, kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan kita dalam memimpin. Kita akan dapat mempersiapkan diri dan menyusun rencana untuk berkontribusi lebih jauh dalam kemajuan bangsa ini di masa yang akan datang. Kita akan menjadi sosok yang visioner. Maka kita akan mudah mencari tahu kemana kita akan melangkah setelah ini, akan menjadi apakah kita pada masa yang akan datang, serta akan dalam bentuk apakah kita berkontribusi bagi negeri.

  Karena menjadi pemimpin sangatlah sulit, maka tidak sembarang orang bisa menjadi pemimpin. Seorang pemimpin haruslah visioner, memiliki ambisi, memiliki mental yang kuat, peka terhadap situasi, mampu mengayomi bawahannya, berkemampuan verbal yang baik serta yang terpenting, bertanggung jawab. Sulitnya bukan hanya sebatas pada menjalankan tugas dan program kerja, namun juga bagaimana membimbing bawahan serta mengkondisikan organisasi/lembaga agar tetap berjalan kondusif.
Lalu apa maksud kutipan kata-kata Pak Harto diatas?
Moto militer Pak Harto mengatakan bahwa tidak ada prajurit yang buruk, yang ada adalah pemimpin yang buruk. Hal lain yang dapat menjadi alasan mengapa menjadi pemimpin sulit adalah karena seorang pemimpin harus berjiwa besar. Seperti moto militer Pak Harto, seorang pemimpin harus siap menanggung kesalahan apabila ada bawahannya yang melakukan kesalahan. Sekalipun ia sama sekali tidak ikut campur dan tidak tahu-menahu. Mengapa harus demikian? Pemimpin merupakan pusat komando suatu organisasi/lembaga. Dalam prinsip managemen diterangkan, dimana salah satunya adalah kesatuan komando. Apakah kesatuan komando? Yaitu, segala kegiatan ataupun pekerjaan yang akan dilakukan oleh seseorang harus berdasarkan perintah yang diberikan pemimpin. Agar pekerjaan masing-masing orang tidak berantakan sehingga dapat mencapai tujuan organisasi/lembaga yang dikehendaki, maka semua kegiatan dan pekerjaan hanya akan dan harus bepusat dapa satu perintah, yaitu perintah pemimpin. Maka apabila terdapat kesalahan yang dilakukan oleh seorang bawahan maka pemimpin berhak disalahkan. Karena si bawahan tersebut hanya menerima satu perintah yang merupakan perintah dari si pemimpin. Jadi, mungkin terdapat kesalah-pahaman antar bawahan dan pemimpin ketika perintah diberikan atau mungkin si pemimpin kurang jelas membeberkan perintahnya sehingga menyebabkan si bawahan melakukan kesalahan.

   Mungkin diantara yang lain, menanggung kesalahan bawahan merupakan yang tersulit untuk dilakukan oleh seorang pemimpin. Karena pada dasarnya manusia cenderung menyalahkan orang lain, bahkan walaupun kesalahan tersebut terletak pada dirinya sendiri. Manusia cenderung berintrospeksi di kemudian hari. Maka hanya yang mampu menahan gengsi dan sifat dasar tersebut lah yang akan mumpuni menjadi seorang pemimpin yang berkapabilitas tinggi.

######

   Tidak semua orang mampu menjadi pemimpin. Tidak dapat disangkal, Semua orang pasti menginginkan kekuasaan dan penghormatan dari orang  lain terhadap dirinya. Tapi sayangnya, menjadi seorang pemimpin, urusannya tidak akan sedangkal itu. Urusan dan tugas pemimpin akan sangat banyak dan luas cakupannya. Maka, sangatlah dibutuhkan pemimpin yang mampu menjalankan urusan dan tugas yang banyak dan luasnya sampai mampu membuat putih rambut dengan mengkondisikan bawahan serta organisasi/lembaga yang dipimpinnya agar tetap kondusif secara bersamaan namun tetap seimbang. Serta satu kemampuan yang tidak kalah penting yang harus dimiliki pemimpin; kemampuan memisahkan antara urusan dan permasalahan pribadi dengan tugas dan kewajiban sebagai pemimpin.

  Semua orang berhak menjadi pemimpin. Tuhan pun menakdirkan begitu. Namun tidak semuanya berkemampuan untuk itu. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mengasah kemampuan agar dapat menjadi pemimpin yang baik. Setidaknya bagi diri sendiri. Seperti dengan mengikuti organisasi atau kegiatan-kegiatan tertentu. Paling tidak disana kita belajar berkomunikasi dengan orang lain dan bertanggung jawab terhadap tugas dan amanah yang kita miliki.

    Kalau menjadi pemimpin bagi diri sendiri saja sudah tidak mampu, lalu bagaimana jika kita dipercaya untuk menjadi pemimpin sebuah organisasi/lembaga yang tanggung jawabnya mencakup hal yang lebih luas? (Ai)

Jumat, 28 September 2012

Tipe dan Gaya Kepemimpinan

Dari penelitian yang dilakukan Fiedler yang dikutip oleh Prasetyo (2006) ditemukan bahwa kinerja kepemimpinan sangat tergantung pada organisasi maupun gaya kepemimpinan (p. 27). Apa yang bisa dikatakan adalah bahwa pemimpin bisa efektif ke dalam situasi tertentu dan tidak efektif pada situasi yang lain. Usaha untuk meningkatkan efektifitas organisasi atau kelompok harus dimulai dari belajar, tidak hanya bagaimana melatih pemimpin secara efektif, tetapi juga membangun lingkungan organisasi dimana seorang pemimpin bisa bekerja dengan baik.

Tipe Dan Gaya Kepemimpinan Organisasi

Lebih lanjut menurut Prasetyo (p.28), gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan dalam proses kepemimpinan yang diimplementasikan dalam perilaku kepemimpinan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Selain itu menurut Flippo (1987), gaya kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu (p. 394).

Menurut University of Iowa Studies yang dikutip Robbins dan Coulter (2002), Lewin menyimpulkan ada tiga gaya kepemimpinan; gaya kepemimpinan autokratis, gaya kepemimpinan demokratis, gaya kepemimpinan Laissez-Faire (Kendali Bebas) (p. 406)

Gaya Kepemimpinan Autokratis
Menurut Rivai (2003), kepemimpinan autokratis adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi (p. 61).

Robbins dan Coulter (2002) menyatakan gaya kepemimpinan autokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung memusatkan kekuasaan kepada dirinya sendiri, mendikte bagaimana tugas harus diselesaikan, membuat keputusan secara sepihak, dan meminimalisasi partisipasi karyawan (p. 460).

Lebih lanjut Sukanto (1987) menyebutkan ciri-ciri gaya kepemimpinan autokratis (pp. 196-198):
1. Semua kebijakan ditentukan oleh pemimpin.
2. Teknik dan langkah-langkah kegiatannya didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-langkah yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkatan yang luas.
3. Pemimpin biasanya membagi tugas kerja bagian dan kerjasama setiap anggota.

Sedangkan menurut Handoko dan Reksohadiprodjo (1997), ciri-ciri gaya kepemimpinan autokratis (p. 304):
1. Pemimpin kurang memperhatikan kebutuhan bawahan.
2. Komunikasi hanya satu arah yaitu kebawah saja.
3. Pemimpin cenderung menjadi pribadi dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap anggota.
4. Pemimpin mengambil jarak dari partisipasi kelompok aktif kecuali bila menunjukan keahliannya

Gaya kepemimpinan Demokratis / Partisipatif
Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri (Rivai, 2006, p. 61).

Menurut Robbins dan Coulter (2002), gaya kepemimpinan demokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung mengikutsertakan karyawan dalam pengambilan keputusan, mendelegasikan kekuasaan, mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimana metode kerja dan tujuan yang ingin dicapai, dan memandang umpan balik sebagai suatu kesempatan untuk melatih karyawan(p. 460). Jerris (1999) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang menghargai kemampuan karyawan untuk mendistribusikan knowledge dan kreativitas untuk meningkatkan servis, mengembangkan usaha, dan menghasilkan banyak keuntungan dapat menjadi motivator bagi karyawan dalam bekerja (p.203).

Ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Sukanto, 1987, pp. 196-198) :
1. Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin.
2. Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat, dan jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih.
3. Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok. 

Lebih lanjut ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Handoko dan Reksohadiprodjo, 1997, p. 304) :
1. Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
2. Menekankan dua hal yaitu bawahan dan tugas.
3. Pemimpin adalah obyektif atau fact-minded dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan.

Gaya Kepemimpinan Laissez-faire (Kendali Bebas)
Gaya kepemimpinan kendali bebas mendeskripsikan pemimpin yang secara keseluruhan memberikan karyawannya atau kelompok kebebasan dalam pembuatan keputusan dan menyelesaikan pekerjaan menurut cara yang menurut karyawannya paling sesuai (Robbins dan Coulter, 2002, p. 460).

Menurut Sukanto (1987) ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas (pp.196-198) :
1. Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan partisipasi minimal dari pemimpin.
2. Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberi informasi pada saat ditanya.
3. Sama sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas.
4. Kadang-kadang memberi komentar spontan terhadap kegiatan anggota atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur suatu kejadian.

Ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas (Handoko dan Reksohadiprodjo, 1997, p. 304):
1. Pemimpin membiarkan bawahannya untuk mengatur dirinya sendiri.
2. Pemimpin hanya menentukan kebijaksanaan dan tujuan umum.
3. Bawahan dapat mengambil keputusan yang relevan untuk mencapai tujuan dalam segala hal yang mereka anggap cocok.

Tipe Dan Gaya Kepemimpinan Organisasi


Kamis, 06 September 2012

7 Prinsip Sukses menjadi Pemimpin


Menjadi pemimpin memang tak mudah. Karena itu, hanya sedikit orang yang mencapai puncak dan bisa terus dikenang hingga kini. Sebenarnya, faktor apa saja yang dimiliki para pemimpin puncak hingga bisa jadi "legenda"?

Kita semua sebenarnya tercipta sebagai pemimpin. Minimal, memimpin diri kita masing-masing. Namun sayangnya, memimpin diri sendiri pun, masih sering mengalami kendala. Mulai dari membiarkan pikiran negatif muncul, memelihara sikap miskin mental, dan berbagai hal kurang baik lainnya. Padahal, dengan mengubah cara pandang saja, berpikiran selalu positif, mengembangkan kekayaan mental, akan mampu menjadikan kita sebagai pemimpin yang mumpuni.
Jika memimpin diri sendiri berhasil kita lampaui, maka menjadi pemimpin dalam arti sebenarnya juga mengandung tantangan yang tak kalah hebatnya. Hanya mereka yang mampu, mau, dan bersedia terus maju, yang akan jadi pemimpin hebat di bidangnya. Dan, sebenarnya, kita pun bisa mencapainya. Bagaimana caranya? Berikut tujuh kriteria penting yang harus dimiliki seseorang agar jadi pemimpin unggulan, yang disarikan dari Paul B. Thornton yang menulis buku Leadership: Best Advice I Ever Got.

1. Pemimpin mampu menjadikan segalanya nyata. Seorang pemimpin haruslah memiliki semangat dan kemauan keras untuk mewujudkan keinginannya menjadi nyata. Untuk itu, pemimpin pasti memiliki sikap seorang do-ers alias mengutamakan action.
John Baldoni, pendiri Baldoni Consulting LLC, mendapat nasihat agar menjadi orang yang tekun dari ayahnya. Sementara, sang ibu mengajarkan untuk tidak melupakan kasih sayang. Karena itu, pemimpin yang baik selain berusaha mewujudkan ambisi, juga tidak melupakan para pendukungnya.

2. Pemimpin mendengarkan dulu, baru memimpin. Steven Covey pernah menyebut, Tuhan menciptakan manusia dengan dua telinga dan satu mulut. Ini berarti, kita sebenarnya diperintahkan untuk lebih banyak mendengar daripada berkata-kata.
Cordia Harrington, Presiden dan CEO dari Tennessee Bun Company menyebutkan, sebagai pemimpin agar mengutamakan untuk memahami lebih dulu, dibanding keinginan untuk dipahami.

3. Pemimpin menjawab pertanyaan dengan jelas dan terarah. Ada tiga pertanyaan mendasar yang biasanya ditanyakan anak buah: Ke mana kita akan mengarah? Bagaimana kita mencapainya? Apa peran saya?
Menurut Kevin Nolan, President & Chief Executive Officer dari Affinity Health Systems, Inc, kemampuan menjawab dengan jelas dan terarah dari ketiga pertanyaan tersebut akan jadi indikator sukses tidaknya seorang pemimpin.

4. Pemimpin menguasai visinya sehingga mampu bekerja di mana dan kapan saja di segala kondisi. Debbe Kennedy, President, CEO dan pendiri Global Dialogue Center and Leadership Solutions Companies, menyebutkan bahwa dunia terus berubah. Maka, seorang pemimpin harus menguasai perubahan dengan mengetahui secara pasti tujuannya.
Untuk itu, seorang pemimpin harus membekali diri dengan beberapa hal, yakni: kemampuan mewujudkan ide-ide, membangun rencana yang terarah, pandai mengeksekusi, berorientasi hasil terbaik di setiap waktu.

5. Pemimpin selalu penuh keingintahuan. Hal ini akan mendorong dirinya menjadi orang yang selalu haus akan informasi terbaru dan terus melakukan pengembangan berkelanjutan.
Menurut Mary Jean Thornton, mantan CIO (Chief Information Officer) dari The Travelers, semua perkembangan didasari oleh kemajuan berpikir. Karena itu, di perusahaannya, ia selalu membiasakan diri dan anak buahnya untuk selalu berpikir kreatif dan menantang untuk membangun masa depan.

6. Pemimpin selalu mendengar dari dua sisi. Seperti yang sudah disebutkan, kemampuan mendengar dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Namun, tak cukup hanya jadi pendengar. Informasi yang didapat harus meliputi semua sisi. Karena itu, seorang pemimpin andal tak lantas percaya begitu saja dengan penuturan satu sisi. Ia harus mampu menggali dan "mendengar" dari sisi lain sehingga bisa melakukan tindakan yang objektif.
Brian P. Lees, senator dari negara bagian Massachusetts, AS menyebutkan pentingnya untuk bergaul dengan semua kalangan. Mulai dari profesor sampai anak-anak sekolah, dari pemimpin lain hingga rakyat biasa.

7. Pemimpin pasti selalu memiliki persiapan, persiapan, dan persiapan. Ada satu pepatah mengatakan, jika Anda gagal membuat rencana, maka Anda sedang merencanakan untuk gagal. Ini mengandung makna, bahwa persiapan menyeluruh, dimulai dari rencana yang matang dan tindakan yang terarah, akan jadi indikator pertama tentang sukses tidaknya kepemimpinan kita.
Tak heran, jika ada idiom, persiapan adalah ilmu untuk meraih kemenangan. Untuk itu, mutlak kiranya seseorang pemimpin menyiapkan segala hal-termasuk dengan rencana cadangan-agar mampu mencapai sukses yang didambakannya.